Ini bukan buku resep biasa, ditulis seorang diaspora kelahiran tanah Betawi yang kini hidup di Negeri Paman Sam. Saya menemukan buku ini di Gramedia Malang, mungkin sekitar dua tahun lalu. Hanya saja, saya baru sempat membacanya dua hari lalu. Buku ini berada di antara buku - buku yang masih tersegel plastik di dalam lemari buku. Menunggu si empunya rumah sempat menjamah.
Sang penulis menceritakan bahwa ia dibesarkan di sebuah kawasan di Jakarta, persisnya di daerah Matraman. Tumbuh dalam keluarga besar, bersama seorang ibu yang ia panggil dengan sebutan Emek. Sosok Emek lah yang menjadi inspirasi penulis untuk mengabadikan resep - resep keluarga yang awalnya tidak tertulis menjadi tertulis seperti yang tertuang di dalam buku Warisan dalam Kamar Pandaringan.
Saya sangat terkesan setelah membaca buku ini, seperti saat saya terpana untuk pertama kalinya setelah membaca judulnya yang unik. Kamar Pendaringan, sebuah istilah yang sudah jarang kita dengar, apalagi kita miliki. Pendaringan adalah kata yang biasa dipakai untuk menyebut sebuah wadah tanah liat untuk menyimpan beras. Sebagai orang yang suka segala sesuatu yang bersifat kebudayaan tradisional, tentu saja saya penasaran dengan judul bukunya. Saya membaca sinopsisnya di bagian belakang sampul. Tanpa banyak cingcong, saya mengambil buku itu.
Dan benar saja, saya terkesan karena ceritanya agak mirip - mirip dengan apa yang saya alami. Kalau penulis dibesarkan oleh ibu yang pandai memasak, sedangkan saya dibesarkan oleh eyang putri yang juga jago mengolah makanan. Mereka punya tangan ajaib. Saya bandingkan lagi. Ibu sang penulis buku tidak pernah menuliskan resep -resep itu ke dalam secarik kertas. Beda dengan eyang, beliau sangat rajin mencatat aneka resep ke dalam buku ukuran folio yang sekarang sudah compang - camping, mrothol, usang berwarna kecoklatan. Ini manuskrip keluarga yang harus segera diselamatkan. Digitalisasi sepertinya cocok.
Ada banyak kenangan di balik resep - resep masakan almarhum eyang. Sepertinya Emek, ibu sang penulis buku sepantaran dengan eyang. Kalau saja eyang masih hidup, beliau sekarang berusia 91 tahun. Beruntung penulis buku masih ditemani Emek nya lebih lama, sedangkan saya ditinggal eyang saat saya berusia 15 tahun. Beliau meninggal di usia yang belum sepuh amat, usia 59 tahun.
Ide buku ini sangat mengena, saya juga jadi punya pikiran yang sama. Semoga ada kekuatan dan kesempatan untuk mengolah kata - kata menjadi sebuah buku persembahan untuk almarhum eyang.
Hmmm.....di akhir buku, ada kalimat yang bikin nyesek.
"Itu memang hak pemilik baru. Mereka hanya membeli rumah, tidak membeli kenangan. Memang tidak ada yang abadi, kecuali kenangan itu sendiri".
Rumah kenangan penulis yang dibangun tahun 1908 akhirnya dijual, dan si empunya rumah yang baru mengubah rumah zaman Belanda itu menjadi bangunan modern berlantai dua. Rumah masa kecil saya di Jalan Burangrang 19 Malang pun kini sudah berubah karena dibeli oleh tetangga kampung dan mengubahnya menjadi rumah kos berlantai dua.
Bagi kalian yang hobi memasak, atau pengen mencoba resep masakan Betawi sambil membayangkan tangan ajaib seorang perempuan yang kita panggil ibu, dengan segala daya upaya mengolah makanan demi mengisi perut lapar anak - anaknya, bolehlah baca buku ini.
.jpeg)


.jpeg)
















