Penayangan bulan lalu

Rabu, 11 Februari 2026

Buku: Warisan dalam Kamar Pendaringan

Ini bukan buku resep biasa, ditulis seorang diaspora kelahiran tanah Betawi yang kini hidup di Negeri Paman Sam. Saya menemukan buku ini di Gramedia Malang, mungkin sekitar dua tahun lalu. Hanya saja, saya baru sempat membacanya dua hari lalu. Buku ini berada di antara buku - buku yang masih tersegel plastik di dalam lemari buku. Menunggu si empunya rumah sempat menjamah. 



Seperti sudah saya tulis di atas. Buku ini bukan buku resep biasa. Kenapa saya bilang begitu? Ya karena selain berisi resep - resep masakan, buku ini juga dilengkapi dengan cerita - cerita di balik setiap resep. Ada sekitar 13 resep di dalamnya, baik resep makanan berat, jajanan, dan juga minuman. Beberapa nama agak asing di telinga, apalagi di lidah saya yang orang Jawa Timur. Yups.....memang sepertinya masakan yang ada di dalam buku ini banyak berkembang di masyarakat Betawi. 

Sang penulis menceritakan bahwa ia dibesarkan di sebuah kawasan di Jakarta, persisnya di daerah Matraman. Tumbuh dalam keluarga besar, bersama seorang ibu yang ia panggil dengan sebutan Emek. Sosok Emek lah yang menjadi inspirasi penulis untuk mengabadikan resep - resep keluarga yang awalnya tidak tertulis menjadi tertulis seperti yang tertuang di dalam buku Warisan dalam Kamar Pandaringan. 

Saya sangat terkesan setelah membaca buku ini, seperti saat saya terpana untuk pertama kalinya setelah membaca judulnya yang unik. Kamar Pendaringan, sebuah istilah yang sudah jarang kita dengar, apalagi kita miliki. Pendaringan adalah kata yang biasa dipakai untuk menyebut sebuah wadah tanah liat untuk menyimpan beras. Sebagai orang yang suka segala sesuatu yang bersifat kebudayaan tradisional, tentu saja saya penasaran dengan judul bukunya. Saya membaca sinopsisnya di bagian belakang sampul. Tanpa banyak cingcong, saya mengambil buku itu. 

Dan benar saja, saya terkesan karena ceritanya agak mirip - mirip dengan apa yang saya alami. Kalau penulis dibesarkan oleh ibu yang pandai memasak, sedangkan saya dibesarkan oleh eyang putri yang juga jago mengolah makanan. Mereka punya tangan ajaib. Saya bandingkan lagi. Ibu sang penulis buku tidak pernah menuliskan resep -resep itu ke dalam secarik kertas. Beda dengan eyang, beliau sangat rajin mencatat aneka resep ke dalam buku ukuran folio yang sekarang sudah compang - camping, mrothol, usang berwarna kecoklatan. Ini manuskrip keluarga yang harus segera diselamatkan. Digitalisasi sepertinya cocok. 

Ada banyak kenangan di balik resep - resep masakan almarhum eyang. Sepertinya Emek, ibu sang penulis buku sepantaran dengan eyang. Kalau saja eyang masih hidup, beliau sekarang berusia 91 tahun. Beruntung penulis buku masih ditemani Emek nya lebih lama, sedangkan saya ditinggal eyang saat saya berusia 15 tahun. Beliau meninggal di usia yang belum sepuh amat, usia 59 tahun. 


Ide buku ini sangat mengena, saya juga jadi punya pikiran yang sama. Semoga ada kekuatan dan kesempatan untuk mengolah kata - kata menjadi sebuah buku persembahan untuk almarhum eyang. 

Hmmm.....di akhir buku, ada kalimat yang bikin nyesek

"Itu memang hak pemilik baru. Mereka hanya membeli rumah, tidak membeli kenangan. Memang tidak ada yang abadi, kecuali kenangan itu sendiri".

Rumah kenangan penulis yang dibangun tahun 1908 akhirnya dijual, dan si empunya rumah yang baru mengubah rumah zaman Belanda itu menjadi bangunan modern berlantai dua. Rumah masa kecil saya di Jalan Burangrang 19 Malang pun kini sudah berubah karena dibeli oleh tetangga kampung dan mengubahnya menjadi rumah kos berlantai dua. 

Bagi kalian yang hobi memasak, atau pengen mencoba resep masakan Betawi sambil membayangkan tangan ajaib seorang perempuan yang kita panggil ibu, dengan segala daya upaya mengolah makanan demi mengisi perut lapar anak - anaknya, bolehlah baca buku ini. 
 

Rumah Maclaine Pont Kini Sudah Bernarasi


Bagi kalian yang sering lewat jalan raya daerah Trowulan, pernah ngga kalian notice ke sebuah bangunan kolonial peninggalan Belanda yang ada di selatan jalan? Bangunan ini berada di dalam lingkungan kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI atau kalau masyarakat sering menyebutnya sebagai kantor purbakala. 

Nah, bangunan kolonial ini disebut sebagai Rumah Maclaine Pont karena memang pernah menjadi kediaman Ir. Henri Maclaine Pont sewaktu aktif mengadakan penyelidikan atas puing - puing kejayaan Kerajaan Majapahit di sekitar Trowulan. Artefak temuan masa klasik yang berhasil dikumpulkan akhirnya dipamerkan di Museum Trowulan yang dididirikan oleh Maclaine Pont. 

Saat ini, Rumah Maclaine Pont menjadi ruang perpustakaan milik Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI yang juga bisa diakses oleh masyarakat umum, dan tentu saja harus pakai surat pengantar dulu ya. 

Nah, gaya kolonial yang melekat pada bangunan ini tentunya sangat menarik di benak orang - orang bertandang ke perpustakaan ini. Sayangnya, sekian lama narasi tentang bangunan Rumah Maclaine Pont tidak juga kunjung ada. 

Dan syukurlah, beberapa waktu lalu saya mendapati di sisi timur bangunan ini sudah terpasang sebuah narasi singkat, pada sebuah plakat besi pendek. Tulisan panjang saya diringkas menyesuaikan luas penampang papan besi. Selain narasi tulisan, oleh teman saya juga ditambah dengan denah bangunan. 



Tulisan asli yang saya buat untuk menjadi narasi Rumah Maclaine Pont akan saya unggah di postingan berikutnya. 

Senang sekali bisa memberi sedikit sumbangsiih. Dan ini adalah buah dari hobi berburu arsip lama dan bergaul dengan kawan - kawan sejiwa :)

Jadi buat kalian yang berkunjung ke perpustakaan BPKW XI, sekarang kalian ngga perlu ber-takon-takon atas sejarah rumah ini. Kalo pengen ngobrol - ngobrol dan diskusi soal sejarahnya, bolehlah kalian nyamperin saya di situ hehehehe......

Selasa, 10 Februari 2026

Buku: 101 Cara Berpikir Kreatif ala Bob Sadino

Saya kembali di tahun 2026 :D, setelah sekian lama hibernasi. Ada semangat baru di tahun baru untuk menulis, semoga istikhomah hehehhe...

"Kesepian" di tahun 2026 harus disalurkan dengan secara bijaksana karena mulut sudah lelah mengumpat, saatnya jemari merapuh ini berkarya kembali meski hanya segores, dua gores tulisan saja. 



Situasi yang "sepi" membuat otak saya menyala untuk berpikir kembali akan cita-cita menjadi usahawan (atau usahawati?). Dan kebetulan, di sebuah bazar buku di sebuah mall tengah kota, saya menemukan buku ini. Bob Sadino, siapa yang tak kenal beliau? Bagi generasi yang mendewasa di tahun 80/90an tentu familiar dengan pengusaha nyentrik ini. Kegemarannya memakai celana pendek di segala kesempatan membuatnya menjadi sosok unik. Unik tidak hanya sebatas cara berpenampilan tapi juga dalam pemikiran yang cenderung sederhana dan terkesan apa adanya. Yap....ini mirip sih dengan saya yang suka apa adanya. Berharap dengan membaca buku setebal 248 halaman ini bisa membuka cakrawala berpikir saya bagaimana membuat seorang peragu berbintang Libra yang ingin membuat satu langkah pertamanya di dunia usaha baru.

Buku 101 Cara Berpikir Kreatif ala Bob Sadino karya Tjahja Harry Wilopo saya selesaikan ngga sampai satu minggu. Saya baca di rumah pas mau tidur dan pagi/sore hai di kantor. Gaya bahasanya enak, lugas, mudah dimengerti. Di dalam buku ini ada sekitar 101 chapter, sesuai judulnya ya. Tiap chapter hanya sekitar tiga lembar. Saya itu suka banget kalo ada buku yang modelan begini hahahaha.....karena bikin saya ngga lelah baca. 

Judul tiap chapter nya bisa bikin kita mengernyitkan dahi. Bagaimana tidak, karena judul tidak chapter merupakan pemikiran nyleneh seorang pengusaha nyentrik seperti Bob Sadino. Pemikiran yang sangat bertolak belakang dengan teori - teori yang dipelajari di bangku kuliah bisnis atau pernyataan - pernyataan yang keluar dari seorang konsultan atau motivator bisnis. Sangat sederhana. 

Menurut Bob Sadino, berbisnis tidak perlu banyak rencana di atas kertas. Apalah itu kalau tidak ada eksekusi nyata. Yang sangat dipentingkan di sini adalah langkah pertama. Ngga perlu muluk - muluk memikirkan langkah selanjutnya. Melangkah saja dulu, kalau ada kendala....ya dipikirkan setelah kita melangkah. Jangan berpikir kegagalan sebelum kita melangkah karena pikiran itu akan menghantui dan akan membuat kita menjadi ragu berbisnis. 

Kata Bob Sadino, setelah kita baca buku ini, kita ngga boleh mengkopi apa yang dia katakan. Diri kita adalah individu yang punya keunikan dan punya gaya masing - masing. Saya sudah fotokan daftar isi buku ini. Jadi kalian bisa lihat kira - kira apa saja yang jadi pemikiran unik Bob Sadino tentang kiat berbisnis. 





Bagaimana, pengen beli dan baca juga? Semoga tulisan di buku ini bisa menjadi inspirasi kita untuk menguatkan kaki kita untuk menciptakan langkah pertama. Selamat membaca dan selamat mencoba!