Penayangan bulan lalu

Rabu, 11 Februari 2026

Rumah Maclaine Pont Kini Sudah Bernarasi


Bagi kalian yang sering lewat jalan raya daerah Trowulan, pernah ngga kalian notice ke sebuah bangunan kolonial peninggalan Belanda yang ada di selatan jalan? Bangunan ini berada di dalam lingkungan kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI atau kalau masyarakat sering menyebutnya sebagai kantor purbakala. 

Nah, bangunan kolonial ini disebut sebagai Rumah Maclaine Pont karena memang pernah menjadi kediaman Ir. Henri Maclaine Pont sewaktu aktif mengadakan penyelidikan atas puing - puing kejayaan Kerajaan Majapahit di sekitar Trowulan. Artefak temuan masa klasik yang berhasil dikumpulkan akhirnya dipamerkan di Museum Trowulan yang dididirikan oleh Maclaine Pont. 

Saat ini, Rumah Maclaine Pont menjadi ruang perpustakaan milik Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI yang juga bisa diakses oleh masyarakat umum, dan tentu saja harus pakai surat pengantar dulu ya. 

Nah, gaya kolonial yang melekat pada bangunan ini tentunya sangat menarik di benak orang - orang bertandang ke perpustakaan ini. Sayangnya, sekian lama narasi tentang bangunan Rumah Maclaine Pont tidak juga kunjung ada. 

Dan syukurlah, beberapa waktu lalu saya mendapati di sisi timur bangunan ini sudah terpasang sebuah narasi singkat, pada sebuah plakat besi pendek. Tulisan panjang saya diringkas menyesuaikan luas penampang papan besi. Selain narasi tulisan, oleh teman saya juga ditambah dengan denah bangunan. 



Tulisan asli yang saya buat untuk menjadi narasi Rumah Maclaine Pont akan saya unggah di postingan berikutnya. 

Senang sekali bisa memberi sedikit sumbangsiih. Dan ini adalah buah dari hobi berburu arsip lama dan bergaul dengan kawan - kawan sejiwa :)

Jadi buat kalian yang berkunjung ke perpustakaan BPKW XI, sekarang kalian ngga perlu ber-takon-takon atas sejarah rumah ini. Kalo pengen ngobrol - ngobrol dan diskusi soal sejarahnya, bolehlah kalian nyamperin saya di situ hehehehe......

Selasa, 10 Februari 2026

Buku: 101 Cara Berpikir Kreatif ala Bob Sadino

Saya kembali di tahun 2026 :D, setelah sekian lama hibernasi. Ada semangat baru di tahun baru untuk menulis, semoga istikhomah hehehhe...

"Kesepian" di tahun 2026 harus disalurkan dengan secara bijaksana karena mulut sudah lelah mengumpat, saatnya jemari merapuh ini berkarya kembali meski hanya segores, dua gores tulisan saja. 



Situasi yang "sepi" membuat otak saya menyala untuk berpikir kembali akan cita-cita menjadi usahawan (atau usahawati?). Dan kebetulan, di sebuah bazar buku di sebuah mall tengah kota, saya menemukan buku ini. Bob Sadino, siapa yang tak kenal beliau? Bagi generasi yang mendewasa di tahun 80/90an tentu familiar dengan pengusaha nyentrik ini. Kegemarannya memakai celana pendek di segala kesempatan membuatnya menjadi sosok unik. Unik tidak hanya sebatas cara berpenampilan tapi juga dalam pemikiran yang cenderung sederhana dan terkesan apa adanya. Yap....ini mirip sih dengan saya yang suka apa adanya. Berharap dengan membaca buku setebal 248 halaman ini bisa membuka cakrawala berpikir saya bagaimana membuat seorang peragu berbintang Libra yang ingin membuat satu langkah pertamanya di dunia usaha baru.

Buku 101 Cara Berpikir Kreatif ala Bob Sadino karya Tjahja Harry Wilopo saya selesaikan ngga sampai satu minggu. Saya baca di rumah pas mau tidur dan pagi/sore hai di kantor. Gaya bahasanya enak, lugas, mudah dimengerti. Di dalam buku ini ada sekitar 101 chapter, sesuai judulnya ya. Tiap chapter hanya sekitar tiga lembar. Saya itu suka banget kalo ada buku yang modelan begini hahahaha.....karena bikin saya ngga lelah baca. 

Judul tiap chapter nya bisa bikin kita mengernyitkan dahi. Bagaimana tidak, karena judul tidak chapter merupakan pemikiran nyleneh seorang pengusaha nyentrik seperti Bob Sadino. Pemikiran yang sangat bertolak belakang dengan teori - teori yang dipelajari di bangku kuliah bisnis atau pernyataan - pernyataan yang keluar dari seorang konsultan atau motivator bisnis. Sangat sederhana. 

Menurut Bob Sadino, berbisnis tidak perlu banyak rencana di atas kertas. Apalah itu kalau tidak ada eksekusi nyata. Yang sangat dipentingkan di sini adalah langkah pertama. Ngga perlu muluk - muluk memikirkan langkah selanjutnya. Melangkah saja dulu, kalau ada kendala....ya dipikirkan setelah kita melangkah. Jangan berpikir kegagalan sebelum kita melangkah karena pikiran itu akan menghantui dan akan membuat kita menjadi ragu berbisnis. 

Kata Bob Sadino, setelah kita baca buku ini, kita ngga boleh mengkopi apa yang dia katakan. Diri kita adalah individu yang punya keunikan dan punya gaya masing - masing. Saya sudah fotokan daftar isi buku ini. Jadi kalian bisa lihat kira - kira apa saja yang jadi pemikiran unik Bob Sadino tentang kiat berbisnis. 





Bagaimana, pengen beli dan baca juga? Semoga tulisan di buku ini bisa menjadi inspirasi kita untuk menguatkan kaki kita untuk menciptakan langkah pertama. Selamat membaca dan selamat mencoba!