Penayangan bulan lalu

Selasa, 09 Juni 2015

Filosofi Tumpeng

foto : www.kaliandra.org


Dirangkum dari berbagai sumber

Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang penuh simbol. Tumpeng adalah salah satunya. Bagi masyarakat Jawa, Tumpeng merupakan perwujudan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan alam semesta serta hubungan antar sesama manusia

Asal kata “Tumpeng”
Tumpeng berasal dari kata “TUMUNGKULA SING MEMPENG”
Tumungkula artinya menunduk
Mempeng artinya rajin
Arti secara umum adalah manusia kalau ingin selamat harus selalu rajin berdoa, patuh pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya

Isi Tumpeng
Perlambang isi dari alam semesta. Ini artinya bahwa bila manusia melestarikan alam, maka hasil bumi akan selalu mudah didapat dan lancer.
→ Nasi berbentuk kerucut
Artinya bahwa semakin hari seharusnya manusia jiwa dan raganya harus semakin menyatu dengan Sang Pencipta. Terkadang ujung Tumpeng diberi cabe merah, itu perlambang agar manusia selalu ingat kepada “yang memberi warna cabe”
→ Ayam bakar utuh (buceng)
Buceng singkatan dari NYEBUTO SING KENCENG (Menyebutlah dengan lantang)
Artinya secara umum adalah bilamana manusia sedang dicoba oleh Tuhan, maka orang tersebut harus introspeksi diri.
→ Urap-urap (sayur-sayuran)
Mempunyai 3 makna :
- Urip (hidup) : manusia harus selalu ingat ia hidup berasal dari mana, selama hidupnya apa saja yang akan dilakukan, dan setelah mati manusia akan kemana
- Urup (berharga) : selama hidupnya manusia harus selalu berguna bagi orang lain, lingkungan di sekitarnya, bangsa dan agamanya
- Urap (campur) : dalam hidup bermasyarakat, manusia harus bisa berbaur dengan sesamanya dan bisa bergaul dengan siapapun.
Bila ketiga hal tersebut dilakukan maka manusia hidupnya akan selamat.
Urap sayur terdiri dari kacang panjang, taoge, kangkung, bayam
→Sayur Lodeh Kluwih (nangka muda)
Artinya bahwa harapannya agar kita diberi rejeki berlebih atau dalam bahasa Jawanya “LUWIH”
→Telur
Sebagai lambang kehidupan, di dalamnya ada 2 sisi yang berlawanan.
Kuning putih, siang malam, laki-laki perempuan, baik buruk dsb.
→Orem-orem tahu tempe
Perlambang dari hasil bumi (kedelai)
→Bali Bandeng
Perwakilan dari binatang air. Berduri banyak, dengan harapan agar rejeki kita juga akan banyak.

→Ikan teri
Melambangkan kerukunan. Karena jenis ikan ini hidupnya selalu bergerombol.

Lauk lain yang bisa ditambahkan
Kering tempe, perkedel, rempah tahu dll.

Semua lauk pauk ditempatkan dalam “Takir”. Takir adalah daun pisang dilipat sehingga berbentuk kotak. Takir itu sendiri berarti “TATAG PIKIR”, artinya bahwa manusia dalam melakukan sesuatu harus mantap dan tidak ragu-ragu.


Kalo Terjadi Kebakaran Hutan, harus Hubungi Siapa?


foto : www.news.liputan6.com

Ini ada beberapa nomor telepon penting yang bisa dihubungi ketika terjadi kebakaran hutan, terutama yang ada di sekitar kawasan Taman Hutan Raya (Tahura R. Soerjo). Sementara aku posting untuk kawasan Tahura terutama dari sisi daerah Pasuruan.


Kantor Perhutani RPH Dayurejo
Telp. (0343) 884390
 
Kantor Perhutani RPH Prigen
Telp. (0343) 882396

Kantor Perhutani BKPH Lawang Barat Sukorejo
Telp. (0343) 631876

Kantor Perhutani KPH Pasuruan Malang
Telp. (0341) 566219

Kantor Balai Tahura Seksi Pasuruan
Telp. (0343) 630173

Kantor Balai Tahura R. Soerjo Malang
Telp. (0341) 483254

Kantor Perhutani Unit II Jawa Timur
Telp. (031) 5915938

Kantor Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur
Telp. (031) 8666549
         (031) 8667858

Kantor Polisi Prigen
Telp. (0343) 881171
Kantor Polisi Pandaan
Telp. (0343) 631145

Kantor Polisi Sukorejo
Telp. (0343) 639859

Kantor Menteri Kehutanan RI
Telp. (021) 5704504
                  5731753

foto. www.alamendah.org

Yaaaa….meskipun demikian mudah-mudahan saja ke depannya ga ada lagi kebakaran hutan yang terjadi di hutan-hutan mana saja di belahan bumi ini mengingat hutan mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup.

Jumat, 05 Juni 2015

Pengalaman Ikut PRIDE Campaign Tahura R. Soerjo

SDN Jatiarjo I
Di SDN Jatiarjo 1, Kecamatan Prigen - Pasuruan

Tulisan ini saya buat ketika baru saja menyelesaikan program PRIDE Campaign atau Kampanye Bangga Melestarikan Alam kerjasama antara Yayasan Kaliandra, RARE dan USAID tahun 2008. Misi dari kampanye ini adalah sosialisasi dan penyadaran masyarakat di sekitar lereng G. Arjuno (Desa Dayurejo dan Desa Jatiarjo Kecamatan Prigen Pasuruan) akan pentingnya keberadaan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Suryo sebagai kawasan konservasi.


Kegiatan PRIDE yang saya ikuti lebih banyak berhubungan dengan dunia anak-anak yaitu kunjungan ke sekolah-sekolah lokal.yang tersebar di 2 desa (ada sekitar 10 SD dan MI) untuk persiapan pertunjukkan kostum Macan Tutul dan panggung boneka. Tingkah laku anak-anak yang polos membuat saya merasa senang sekali bisa berada di tengah-tengah mereka. Setiap sekolah yang saya kunjungi selalu ada pengalaman yang berbeda. Semuanya berkesan karena anak-anak selalu antusias melihat kedatangan saya dan teman-teman. Apalagi kalau si Matul (Macan Tutul) dan Luja (Luja) sudah beraksi, wah…..pasti anak-anak heboh sekali. Lari tunggang langgang sambil tertawa-tawa. Sejak saat itu nama saya dan teman-teman (pemeran Matul dan Luja) jadi terkenal di kalangan anak-anak. Kalau pergi ke dusun-dusun, kami selalu disapa dengan sebutan Matul dan Luja.

Setiap sekolah yang saya dan rekan-rekan kunjungi memang memiliki keunikan sendiri-sendiri. Sekolah desa, terutama di dusun Tonggowah, Tegal Kidul, Cowek memiliki keterbatasan lahan datar. Jadi ketika kami melakukan kegiatan, terpaksa anak-anak berbaris di tengah jalan yang menjadi lalu lintas pengguna jalan yang lain. Karena berada di jalan, tak urung aksi ini menjadi tontonan warga sekitar, terutama para ibu-ibu yang sedang mengasuh anaknya.
 

Dari segi murid-muridnya pun beragam. Ada sekolah yang murid-muridnya tertib, ada pula yang susah untuk dikendalikan karena begitu antusias melihat pertunjukkan kostum serta hadiah-hadiah yang kami bagikan.
Kagiatan pertunjukkan kostum, kami lakukan bertepatan dengan datangnya musim hujan. Sehingga sepertinya, kami harus berpacu dengan kondisi alam yang seperti ini. Sering kali ketika di tengah-tengah kegiatan, tiba-tiba datang hujan, mulai yang gerimis sampai yang lebat. Kalau hanya hujan gerimis, kegiatan masih bisa diteruskan karena anak-anak masih bersemangat mengikuti. Tetapi ketika sudah datang hujan lebat, mau tidak mau kegiatan harus dihentikan, karena ketiadaan tempat tertutup yang lain /aula.
Selain bisa dekat dan dikenal oleh para murid-muridnya, saya juga dikenal oleh para bapak/ibu guru. Karena sebelum kegiatan berlangsung, pastilah saya datang berkunjung ke sekolah untuk mengenal lebih dekat dan juga untuk melakukan “deal” kapan kegiatan akan dilakukan.
 

Di SDN Gutean Desa Dayurejo Prigen Pasuruan
Setiap hari Selasa dan Rabu siang, Kaliandra selalu dipenuhi oleh anak-anak desa yang akan belajar tentang alam dan budaya. Suatu waktu, saya menyuruh mereka untuk membuat drama dengan tema bebas. Dan rata-rata tiap kelompok memilih tema yang hampir sama yaitu bertema tentang pelestarian hutan. Ada penebang liar, ada orang ngareng (membuat arang di hutan), ada polisi kehutanan. Dan semua kelompok jalan ceritanya ber-ending dengan tertangkapnya para penjahat tersebut. Lalu penjahat tersadar akan perbuatan mereka. Pernah juga saya mendengar ada anak-anak yang meledek temannya yang kebetulan ayahnya berprofesi sebagai pengareng dan yang disindir hanya bisa cemberut. Kegiatan PRIDE begitu meresap ke dalam pikiran anak-anak. Mereka hafal di luar kepala apa singkatan, letak, dan manfaat Tahura itu. Lagu-lagu yang dipopulerkan oleh Suket Teki juga tak luput dari ingatan mereka. Menyanyikan lagu-lagu bertema lingkungan seperti itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Dan lagu yang paling mereka sukai adalah yang berjudul Tahura. Lagu yang berirama gembira ini sering dinyanyikan sambil kothekan (memukul-mukul meja memakai tangan untuk menghasilkan irama) dan juga sumber-sumber bunyi yang lain mereka mainkan ketika menunggu saat-saat belajar di Kaliandra, maupun di rumah mereka masing-masing tatkala saya melewati beberapa rumah murid saya dan mencuri dengar apa yang sedang mereka nyanyikan.
 

Selain kegiatan bersama anak-anak, saya juga pernah ikut dalam kegiatan karnaval di desa dalam rangka 17 Agustusan. Kebetulan saya sebagai tim dokumentasi. Saat itu, berbarengan dengan kedatangan tim dari RARE yang saat itu juga ikut meliput kegiatan. Para warga dari dusun Gamoh (diwakili tiap-tiap RT) menampilkan berbagai atraksi menarik. Untuk karnaval tahun 2007 kemarin, tema yang diambil adalah pelestarian hutan Tahura. Semua generasi, mulai dari anak kecil, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, sampai orang-orang yang sudah lanjut usia ikut berpartisipasi. Semua saling beradu kreatifitas untuk menampilkan yang terbaik. Ada atraksi pembalakan liar, kegiatan pengarengan, sampai atraksi pengungsi korban bencana banjir dan longsor yang semuanya diperankan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah sepuh (tua). Jadi lucu sekali, sambil mereka menggelar nasi bungkus dan makan ramai-ramai di tengah jalan guna mempertontonkan bagaimana menderitanya para korban bencana alam. Senang sekali bisa berbaur dengan masyarakat desa, yang saat itu bisa dipastikan hampir semua orang dalam satu dusun tumplek bleg di sepanjang jalan. Dengan harapan bahwa kampanye melalui karnaval ini bisa menjadi salah satu media penyadaran masyarakat yang efektif, guna kelestarian hutan Tahura.
 

Kegiatan PRIDE lain yang pernah saya lakukan adalah lomba cerdas-cermat antar kaum perempuan tingkat dusun se-desa Dayurejo dan Jatiarjo. Harapannya di sini adalah kaum perempuan yang hidup di desa juga mempunyai hak yang sama dengan kaum pria dalam mengakses informasi yang berkaitan dengan pelestarian alam. Dengan pengetahuan yang diperolehnya tersebut, kaum perempuan bisa menjadi pendidik yang baik bagi putra-putrinya guna mencetak generasi penerus yang berkelanjutan dan bertanggung jawab bagi lingkungannya.
 

Pada lomba tersebut, saya meminta bantuan kepada tokoh-tokoh perempuan yang ada di masing-masing desa untuk membantu saya dalam mengkoordinir peserta lomba. Tapi, di desa Jatiarjo tidak begitu berjalan dengan lancar. Beberapa hari menjelang hari perlombaan, baru 1 tim (beranggotakan 3 orang) yang mendaftar dari 6 tim seperti yang direncanakan. Akhirnya, saya dan seorang rekan berangkat ke 3 dusun di desa Jatiarjo, bergerilya mencari peserta. Dari situlah kami baru mengetahui mengapa mereka belum juga mendaftar. Perasaan malu, itulah alasannya. Malu dengan segala keterbatasan kemampuan mereka, malu ditonton orang banyak, begitu katanya. Tetapi dengan semangat dan dorongan yang kami berikan, akhirnya kami berhasil juga membawa pulang nama-nama peserta sesuai dengan kuota. Tapi hikmah yang saya peroleh di sini adalah, saya bisa berkeliling desa berkunjung ke rumah warga, mengenal lebih dekat sampai ke tempat yang terpencil sekalipun. Lain Jatiarjo, lain pula desa Dayurejo. Berkat bantuan Ibu Carik (istri Sekretaris Desa) yang begitu antusias, nama peserta dapat terkumpul tepat pada tenggat waktu yang diberikan.
 

Saya juga membantu dalam workshop guru, membahas tentang kurikulum pendidikan lingkungan hidup. Kegiatan ini menambah wawasan saya mengenai dunia pendidikan. Apa itu kurikulum dan penyusunannya, apa itu mata pelajaran mulok (muatan lokal) dan manfaatnya. Tetapi secara garis besar, kegiatan PRIDE memberi manfaat yang besar. Masyarakat (dari mulai anak-anak sampai orang dewasa) akhirnya tahu dan sadar akan pentingnya menjaga hutan di Tahura. Otomatis, saya dan rekan-rekan sebagai fasilitator di sini juga turut bertambah pengetahuaanya. Serta dapat mengenal masyarakat dari berbagai macam kalangan dan lapisan. Mudah-mudahan kesadaran seperti ini akan berlanjut sampai seterusnya, tidak berhenti di sini saja. Agar hutan dan segala macam sumber daya di dalamnya akan tetap lestari sehingga dapat kita wariskan kepada para generasi penerus bangsa. Aamiin. 




"Omah Kastengel" nya Tante Wid

Bulan Suci Ramadhan sudah di depan mata nih. Abis itu Lebaran deh. Udah tradisi di Indonesia, kalo Lebaran pasti tiap keluarga menyiapkan aneka macam masakan dan jajanan di rumah nya buat menyambut para tamu. Padahal kalo mau jujur, asli nya makanan itu pada habis bukan dihabiskan sama tamu nya, tapi dihabiskan sama yang punya rumah hahahaha.....(pengalaman pribadi :p)


Nah....salah satu jenis jajanan yang ada itu namanya Kastengel. Dari namanya aja udah ketauan kalo bukan asli Indonesia. Yups....jajanan ini asli nya dari Belanda. Mungkin ini salah satu budaya/seni kuliner yang dibawa oleh orang-orang Belanda pada jaman penjajahan dulu.

Terus terang, aku penggemar keju.....
Tapi keju lokal sih aku makannya dan belum pernah icip-icip keju dari luar. Kastengel yang berbahan dasar keju itu akhirnya jadi salah satu jajanan favorit kalo pas hari raya, semenjak aku kecil. Kastengel buatan almarhum Eyang Putri ku lezaaaaat banget. Kastengel paling lezat yang pernah aku makan seumur hidup selama 37 tahun ini hahahaha......beneran lho....
Eyang selalu bikin Kastengel dengan 2 versi, versi panjang sama versi bulat dan di atas nya di kasih cengkih mirip kue Nastar, padahal asli nya Kastengel terenak di dunia hehehehe

Dulu, meskipun aku masih SD tapi seneng banget kalo disuruh bantu-bantu Eyang bikin kue. Sayang....Eyang udah keburu meninggal sebelum aku belajar lebih banyak lagi.

Eits....tunggu. Meskipun Eyang udah ga ada, aku sampe sekarang masih bisa icip-icip Kastengel lezat seperti dulu lagi. Tante ku yang ada di Malang, namanya Tante Wid ternyata juga pinter bikin Kastengel pake resep warisan Eyang. Karena lezat dan layak jual, mulai taun kemaren Tante Wid mulai usaha kuliner nya dengan nama "Omah Kastengel". Masih usaha rumahan sih....tapi kualitas dijamin deh. Tahun kemaren, alhamdulillah.....puluhan kilo Kastengel nya terjual habis. Oh ya....karena ini Kastengel sehat yang ga berpengawet, Tante Wid cuma produksi kalo pas ada pesenan aja.

Nah...mumpung Lebaran masih kurang lebih sebulan lagi, silahkan coba order "Omah Kastengel".
CP. Ibu Wiwid Tricahyo (081334090195), Fitri (08990331466)
Alamat : Jl. Gamalama 2 nomor 8 Tidar _ Malang









Rabu, 03 Juni 2015

Tentang Kebakaran Hutan



Kebakaran hutan di lereng Gn. Arjuno tahun 2014 (dok. Sindonews)   
Baiklah kawan, posting ku kali ini akan membahas soal kebakaran hutan. Apalagi kita sebentar lagi kayaknya akan mulai memasuki musim kemarau jadi kayaknya ini penting untuk diketahui bersama. Kebetulan aku punya booklet tentang kebakaran hutan yang kuperoleh ketika aku bergabung dalam tim Pride Campaign yang dilakukan oleh Yayasan Kaliandra S.E.J.A.T.I Prigen bekerja sama dengan USAID beberapa tahun lalu


Berikut ini adalah ringkasannya. Selamat menyimak…..

Di Indonesia, kebakaran hutan biasanya terjadi pada bulan Juli sampai Oktober dimana pada saat itu adalah musim kemarau. Umumnya kebakaran hutan terjadi karena :
1.         Membuang punting rokok dalam keadaan menyala
2.         Pembukaan lahan hutan untuk pertanian dengan cara membakar yang tidak terkendali
3.         Membuat arang di hutan tanpa pengendalian api yang baik
4.         Meninggalkan perapian di hutan dalam keadaan menyala

Dampak kebakaran hutan :
1.         Tanah menjadi kering dan gersang
2.         Cadangan air tanah menurun
3.         Mutu udara menjadi buruk dan berbahaya bagi manusia
4.         Fungsi penting hutan hilang

Bagaimana mencegah kebakaran hutan?
1.         Api adalah sumber kebakaran, waspda dan hati-hati terhadap hutan
2.         Kelola lahan pertanian dengan baik, serta tidak melakukan lading berpindah
3.         Reboisasi lahan gundul dan metode tebang pilih
4.         Bekerja sama membentuk kelompok Penjaga Hutan dan melakukan pemantauan dengan teratur
5.         Membuat Peraturan Desa tentang pengelolaan hutan untuk mencegah kebakaran hutan

Kebakaran hutan lereng Gn. Arjuno tahun 2014

Saat terjadi kebakaran, apa yang harus dilakukan?
1.         Melakukan koordinasi dengan pihak terkait secara cepat kalau terjadi kebakaran hutan
2.         Bekerja dalam satu koordinasi atau di bawah komandan satuan pelaksana pemadaman kebakaran
3.         Melakukan pemadaman api dengan :
a.         Menyiapkan peralatan pemadaman
·      Peralatan pertanian (arit, parang, kapak, cangkul)
·      Alat pemukul api, dapat dibuat dari karet penahan lumpur di roda mobil atau dari karung goni
·      Kentongan atau peluit
·      Pakaian yang tidak mudah terbakar , sepatu boot dan logistic (makanan dan minuman)
b.        Mengenali api dengan memperhatikan :
·      Waktu (pukul berapa). Api akan lebih panas saat siang hari
·      Angin
·      Melihat jenis tumbuhan
·      Lereng curam di sekitarnya. Api cenderung mejalar secara cepat kea rah atas lereng.
c.     Memastikan adanya rute aman untuk melarikan diri bila api tak terkendali
d.    Menghindari masuk ke bagian tengah padang rumput yang tinggi agar tidak terperangkap kobaran api
e.    Untuk kobaran api keil dan bisa dikendalikan, memadamkan api dimulai dari kepala (ujung depan) ke bagian sisi dan terakhir pada bagian belakang. Bila dirasa tidak aman atau tidak memungkinkan pemadaman bagian ujung maka upaya pemadaman lebih baik diutamakan pada perlindungan area yang bernilai tinggi di bagian samping dan belakang
f.     Selalu berhati-hati terhadap kemungkinan kobaran api berbalik arah dari ujung depan dan samping kea rah pemadaman

Hal-hal yang perlu dilakukan setelah kebakaran padam
1.         Penanaman kembali lahan yang telah terbakar
2.         Meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan
3.         Mendokumentasikan setiap kejadian kebakaran dan kegiatan penanganan agar dapat dipelajari pola penyebab dan pola penanganan yang efektif

Apa saja yang perlu dicatat jika terjadi kebakaran?
1.         Jam berapa terjadi kebakaran?
2.         Kawasan mana yang terbakar?
3.         Berapa luas lahan yang terbakar?
4.         Jenis tanaman apa yang terbakar?
5.         Berapa lama kawasan itu terbakar?
6.         Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan pemadaman?
7.         Siapa yang memberi informasi kebakaran?


So, lestarikan hutan kita ya, kawan!!! Hutan sangat penting untuk semua kehidupan di muka bumi ini.