Penayangan bulan lalu

Sabtu, 30 Januari 2016

SITUS KOLAM SEGARAN

Bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke Situs Trowulan pastilah tahu tentang kolam kuna ini. Ya, Kolam Segaran. Kolam yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit ini memang terletak di jalan utama Desa Trowulan, tepat di sebelah utara Museum Majapahit. Dan kolam ini merupakan satu di antara 32 waduk/kolam kuno yang masih ada hingga kini. Kolam berbentuk persegi panjang dengan ukuan panjang 375 meter, lebar 125 meter dengan kedalaman 3 meter. Dinding kolam setinggi 3, 16 meter dan lebar 1,6 meter. Terbuat dari batu batu merah dimana perekatannya dengan menggunakan metode gosok. Kata “Segaran” berasal dari bahasa Jawa “Segara’ yang arti nya laut dan mendapat akhiran –an sehingga dapat diartikan “menyerupai laut”.
 
 
Sejarah
Kolam Segaran pertama kali ditemukan tahun 1926 oleh Ir. Henry Maclaine Pont yang saat itu sedang mengadakan penelitian tentang peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Dugaan para ahli purbakala, Kolam Segaran dahulunya berfungsi sebagai penampungan air hujan dan irigasi serta berfungsi sebagai penjaga kelembaban iklim di ibukota Majapahit.  Dugaan sebagai saluran irigasi karena pada bagian tenggara terdapat saluran untuk mengalirkan air dan di sisi barat laut terdapat saluran pembuangan. Saluran ini berhubungan dengan Balong Bunder (Kolam Bulat) yang terletak di selatannya dan Balong Dowo (Kolam Panjang) yang terletak di depan Museum Majapahit. Dugaan lain terkait Kolam Segaran adalah kaitannya dengan telaga yang tercantum dalam Kitab Negarakertagama pupuh VII:5.3.
Pada waktu pertama kali kolam ini ditemukan hampir sebagian besar permukaan kolam tertutup dengan tanah dan rerumputan. Bahkan ada cerita bahwa area rerumputan tersebut dipakai oleh orang-orang Belanda sebagai arena pacuan kuda. Baru pada tahun 1966 diadakan pemugaran pada kolam tersebut. Namun kegiatan ini hanya berlangsung setahun. Pemugaran yang lebih terencana selanjutnya pada tahun 1974 dan berlanjut pada tahun anggaran 1983/1984.
Seperti halnya tempat-tempat kuno yang lain. Kolam Segaran juga mempunyai mitos yang didasarkan pada cerita rakyat yaitu kolam raksasa ini dahulu adalah tempat rekreasi dan menjamu tamu-tamu terhormat yang berasal dari kerajaan lain. Di sana mereka mengadakan perjamuan makan yang sangat mewah, menggunakan piring, mangkuk dan sendok yang terbuat dari emas. Tradisinya adalah selepas mengadakan perjamuan semua peralatan makan tersebut dilemparkan ke dalam kolam dengan tujuan untuk menunjukkan betapa kayanya Kerajaan Majapahit itu.
 
 
Kolam Segaran Saat Ini
Sama hal nya dengan Museum Majapahit, saat ini Situs Kolam Segaran berada di bawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto Wilayah Kerja Propinsi Jawa Timur (BPCB Jatim) sehingga kolam kuno ini bisa terjaga dengan baik karena setiap harinya ada para Juru Pelihara (Jupel) yang bertugas untuk merawat dan menjaga kebersihan, keindahan Kolam Segaran agar bisa tetap dinikmati oleh masyarakat
Kolam Segaran saat ini digunakan sebagai salah satu alternatif tempat wisata yang murah meriah bagi warga masyarakat penghobi memancing. Para pemancing tidak hanya berasal dari sekitar kolam saja tapi juga berasal desa-desa lainnya bahkan dari kota lain. Hal itu terlihat adanya beberapa pemancing yang datang dengan mengendarai kendaraan roda empat berplat nomor luar Mojokerto. Di tahun 70 an, di dalam Kolam Segaran banyak terdapat Ikan Wader, ikan tawar berukuran kecil yang akhirnya memberikan ide kepada Bapak Pi’I (warga sekitar) untuk membuat usaha warung Wader, sekaligus menjadi pioneer usaha tersebut yang akhirnya diikuti oleh belasan warga lainnya dengan membuka usaha yang sama. Selain itu, Kolam Segaran juga beberapa kali digunakan untuk event kegiatan baik yang dilakukan baik oleh desa setempat, BPCB Jatim maupun komunitas-komunitas pelestari budaya. Misalnya pada tahun 2013, Museum Majapahit bekerja sama dengan Boro Rafting mengadakan Lomba Arung Segaran, pertunjukan tari dan larung sesaji oleh BPPI (Badan Pelestari Pusaka Indonesia). Dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar