Penayangan bulan lalu

Selasa, 09 Februari 2016

MENGENAL LEBIH DEKAT TANAMAN MAJA (Crescentia cujete)


Sebagai seseorang yang mencintai bidang budaya dan alam, aku nyoba nulis ini. Dulu tulisan ini aku setor untuk mengisi salah satu rubrik di majalah DESAWARNANA yang diterbitkan oleh BPCB Jawa Timur. 

----------------------------------------------------------------------------------------

Siapa yang tidak pernah mendengar nama “Kerajaan Majapahit”?. Ya...tentunya bukan sebuah nama yang asing lagi di telinga masyarakat umum karena selalu menjadi salah satu topik pembahasan pada mata pelajaran Sejarah dari mulai bangku SD sampai SMA. Sebuah nama yang sangat melegenda karena kerajaan ini pernah berjaya di Nusantara pada abad 13. Cerita tentang pendirian kerajaan ini, tak luput dari kisah prajurit Raden Wijaya yang tengah menebang pepohonan di hutan Trik untuk dijadikan sebuah desa. Tanpa sengaja, prajurit itu memakan buah Maja yang rasanya pahit dan akhirnya beliau pun menamakan kerajaannya itu menjadi Kerajaan Majapahit. 

Artikel ini mengesampingkan perdebatan buah Maja yang mana kah yang dimakan oleh prajurit tersebut. Buah Maja manis yang masih sangat muda (yang mungkin terasa pahit) ataukah buah Maja yang kita kenal selama ini?. Berdasarkan ilmu botani diperoleh informasi bahwa buah Maja manis yang bernama ilmiah Aegle marmelos merupakan tanaman asli Asia yang tersebar mulai dari Pakistan, India, tenggara Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Kambodja, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Sedangkan buah Maja pahit yang bernama ilmiah Crescentia spp. berasal dari daerah Karibia, Mexico dan Amerika Tengah. Di artikel ini akan dibahas mengenai Maja jenis terakhir ini, yang memang lebih dikenal luas dan sering dijumpai di beberapa tempat. Bagaimana bentuk dan karakteristiknya, apa saja manfaatnya, dan bagaimana aplikasinya untuk menjadi media edukasi di Museum Majapahit? Silahkan simak informasi di bawah ini.


KARAKTERISTIK TANAMAN MAJA (Crescentia cujete)

Buah Maja ini dikenal dengan nama lokal Berenuk, Bernuk atau Brenuk, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Calabash Tree. Ada beberapa jenis Crescentia yaitu Crescentia cujete, Crescentia alata, dan Crescentia portoricensis. Bernuk Crescentia alata, berbentuk sama dengan Crescentia cujete, hanya ukuran buahnya agak lebih kecil. Yang buahnya berbeda adalah bernuk Crescentia portoricensis. Bentuk buahnya memanjang seperti labu air, dengan warna hijau tua.

Tanaman ini merupakan jenis tanaman perdu dengan tinggi 6 – 10 meter. Tajuk memanjang ke samping, cabang pohon panjang dan tertutup oleh kumpulan dedaunan. Umum dijumpai di tepi hutan, di padang rumput dan di tepi jalan sampai dengan ketinggian 420 meter di atas permukaan air laut. Kulit pohon berwarna pucat, daunnya bisa mencapai 20x6 cm, berbunga di bulan Mei – Januari. Buahnya bisa sebesar bola volley dan mencapai diameter 25 cm, berwarna hijau dengan kulit (tempurung) sangat keras. Kayunya keras, berat namun elastis.



MANFAAT TANAMAN MAJA

Meskipun dagingnya berasa pahit dan tidak bisa dikonsumsi sebagai buah pencuci mulut ternyata
secara umum tanaman ini mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia, antara lain :

1.        Sebagai pupuk cair
Kandungan tanaman ini pernah diteliti di Pusat Pendidikan dan Latihan Nasional Serikat Tani Indonesia di daerah Bogor. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata buah Maja dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk meningkatkan produktifitas tanaman buah dengan cara sebagai berikut : Buah maja yang tidak terlalu tua (jangan sampai terlalu tua karena kulitnya akan keras sekali) diambil dagingnya, lalu dihancurkan. Daging buah yang sudah hancur dimasukan ke dalam drum yang sudah terisi dengan campuran air dan urine ternak yang ada di sekitar kita. Setelah dicampur, diaduk lalu ditutup dan diamkan selama seminggu, setelah seminggu, buka kembali drum dan lakukan pengadukan lagi, setelah itu tunggu selama seminggu  lagi baru kemudian larutan tersebut bisa diaplikasikan. Untuk pengaplikasian bisa dilihat dari tingkat keenceran, jika larutan cukup pekat maka untuk pengaplikasian bisa diencerkan dengan perbandingan 1: 3 atau 1:5, jika larutan encer bisa langsung diaplikasikan ke tanaman, khususnya untuk tanaman yang menghasilkan buah. Pengaplikasian akan lebih efektif pada saat tanaman berbunga.

2.        Sebagai insektisida alami
Kandungan tanaman ini sangat tidak disukai oleh serangga yang bisa menjadi hama tanaman buah sehingga penyemprotan pupuk cair bisa berfungsi juga sebagai pengusir serangga.

3.        Sebagai pengusir tikus
Informasi manfaat buah Maja sebagai pengusir tikus didapat oleh penulis ketika bertemu dengan seorang warga Trowulan yang kala itu tengah asyik memunguti buah yang jatuh di halaman Museum Majapahit. Ternyata buah itu akan digunakannya sebagai pengusir tikus di rumah. Masuk akal, karena lagi-lagi kandungan zat di dalam buah yang membuat tikus-tikus itu “menghilang” karena mungkin indera penciumannya menangkap bau yang kurang mereka sukai. Caranya mudah yaitu cukup menaruh saja buah tersebut di daerah yang sering disinggahi oleh tikus.

4.        Sebagai bahan kerajinan
Tempurung buah Maja berukuran 2 kali lipat dari tempurung kelapa dan bertekstur keras. Namun di tangan orang yang kreatif, tempurung yang biasa menjadi limbah bisa diolah menjadi kerajinan yang menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan. Seperti yang dilakukan oleh seorang pengrajin dari Bogor yang mengolah tempurung buah Maja menjadi gayung, cangkir, poci/teko, tas tangan, dan lampu duduk. Caranya mudah, petik buahnya lalu buang dagingnya kemudian dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, tempurung bisa langsung dibentuk sesuai selera. Untuk finishing bisa mempercantiknya dengan cat atau vernis.

5.        Sebagai tanaman peneduh jalan dan penghias taman
Tajuknya yang melebar dan daun yang rapat membuat tanaman ini cocok ditanam di taman kota atau di sisi jalan sebagai peneduh. Bisa juga ditanam sebagai penghias halaman rumah karena bentuk tanamannya yang unik dan menarik karena buahnya yang berbentuk besar, bulat berwarna hijau dan bisa tumbuh sampai puluhan buah pada satu pohon.

6.        Sebagai tanaman obat
Di daerah asalnya di Amerika Tengah, tanaman ini biasa digunakan sebagai obat alami untuk beberapa penyakit misalnya penyakit saluran kencing, sakit kepala, sakit gigi, sakit telinga, asma, luka bakar, batuk, demam, menstruasi yang tidak teratur, gangguan prostat. Di Haiti, St. Lucia dan Mexico, buah ini di jus untuk mencegah diare. Di Venezuela digunakan untuk menyembuhkan tumor dan radang. Di Karibia digunakan sebagai obat penahan rasa sakit, anti radang untuk menyembuhkan trauma. Di Kostarika digunakan sebagai obat pencahar/cuci perut.


TANAMAN MAJA SEBAGAI MEDIA EDUKASI DI MUSEUM MAJAPAHIT

Di halaman Museum Majapahit terdapat beberapa batang tanaman Maja. Hal ini menjadi inspirasi penulis untuk menjadikannya sebagai media pembelajaran bagi pengunjung Museum baik siswa-siswi sekolah maupun dari kalangan umum agar mereka tidak jenuh dengan hanya berkeliling melihat koleksi-koleksi Museum yang notabene adalah benda mati. Memandu anak-anak itu tidak gampang dan membutuhkan trik karena anak-anak butuh visualisasi dalam belajar. Mereka butuh bersentuhan langsung dengan obyek agar memberikan kesan mendalam.

Di bawah pohon Maja, penulis bisa bereerita tentang banyak hal. Ketika penulis bercerita tentang sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, penulis menyuruh mereka membayangkan seolah-olah mereka adalah adalah prajurit Majapahit yang tengah kelelahan dan kehausan. Tak pelak mereka pun berebutan menyentuh batang, daun dan menciumi buah Maja, sambil merasakan tekstur, mengamati bentuk dan warnanya. Menyenangkan sekali ketika mereka asyik berceloteh menyampaikan apa yang sudah mereka rasakan. Tak lupa penulis juga bercerita tentang berbagai manfaat tanaman Maja bagi kehidupan manusia. Hal itu bisa menyadarkan mereka bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di bumi ini pasti dengan maksud tertentu seperti juga tanaman Maja,walaupun tidak bisa dimakan ternyata bisa digunakan untuk obat, insektisida dll.

Untuk mengajak mereka mencintai lingkungan, penulis mengajak mereka mengelilingi pohon Maja dan memintanya untuk merapat ke pohon sambil bergandeng tangan. Sesaat kemudian, penulis meminta mereka membentuk lingkaran besar menjauh dari pohon sambil bertanya apakah ada perbedaan suasana antara ketika mereka berada di bawah pohon dengan di luar tajuk pohon. Pastilah mereka serempak menjawab bahwa berdiri di bawah pohon sangatlah sejuk dan suasana menjadi gerah dan panas ketika mereka ke luar dari tajuk. Nah, dari pengalaman itulah mereka bisa belajar tentang arti penting sebuah pohon sebagai peneduh udara dan manfaat secara ekologis lainnya, sehingga mereka tidak akan dengan seenaknya menebang pohon tanpa ada alasan yang kuat. Atau mengajak mereka mengenal bentuk daun dengan cara memetik satu daun kemudian meletakkan kertas di atasnya kemudian mengarsirnya dengan pensil. Dari arsiran itu akan tampak guratan-guratan tulang daun. Bagi kelas yang agak besar misalnya SMP dan SMA yang sudah mendapat mata pelajaran Biologi, maka dari pohon Maja bisa saja menjadi obyek pembelajaran klasifikasi tanaman mulai dari kerajaan, divisi, kelas, ordo, famili, genus, spesies dan sub spesies. Menarik bukan? Siapa bilang di Museum kita hanya belajar Sejarah? Ternyata di sana juga bisa belajar pengetahuan alam dan tentang hal lainnya.

Semoga bermanfaat.


Sumber :








Tidak ada komentar:

Posting Komentar