Sebagai seseorang yang mencintai bidang budaya dan alam, aku nyoba nulis ini. Dulu tulisan ini aku setor untuk mengisi salah satu rubrik di majalah DESAWARNANA yang diterbitkan oleh BPCB Jawa Timur.
----------------------------------------------------------------------------------------
Siapa yang tidak pernah mendengar nama “Kerajaan Majapahit”?. Ya...tentunya bukan sebuah nama yang asing lagi di telinga masyarakat umum karena selalu menjadi salah satu topik pembahasan pada mata pelajaran Sejarah dari mulai bangku SD sampai SMA. Sebuah nama yang sangat melegenda karena kerajaan ini pernah berjaya di Nusantara pada abad 13. Cerita tentang pendirian kerajaan ini, tak luput dari kisah prajurit Raden Wijaya yang tengah menebang pepohonan di hutan Trik untuk dijadikan sebuah desa. Tanpa sengaja, prajurit itu memakan buah Maja yang rasanya pahit dan akhirnya beliau pun menamakan kerajaannya itu menjadi Kerajaan Majapahit.
Artikel ini mengesampingkan perdebatan buah Maja yang mana kah yang dimakan oleh prajurit tersebut. Buah Maja manis yang masih sangat muda (yang mungkin terasa pahit) ataukah buah Maja yang kita kenal selama ini?. Berdasarkan ilmu botani diperoleh informasi bahwa buah Maja manis yang bernama ilmiah Aegle marmelos merupakan tanaman asli Asia yang tersebar mulai dari Pakistan, India, tenggara Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Kambodja, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Sedangkan buah Maja pahit yang bernama ilmiah Crescentia spp. berasal dari daerah Karibia, Mexico dan Amerika Tengah. Di artikel ini akan dibahas mengenai Maja jenis terakhir ini, yang memang lebih dikenal luas dan sering dijumpai di beberapa tempat. Bagaimana bentuk dan karakteristiknya, apa saja manfaatnya, dan bagaimana aplikasinya untuk menjadi media edukasi di Museum Majapahit? Silahkan simak informasi di bawah ini.
KARAKTERISTIK TANAMAN MAJA (Crescentia cujete)
Buah Maja ini dikenal dengan nama lokal Berenuk,
Bernuk atau Brenuk, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Calabash Tree. Ada beberapa jenis Crescentia yaitu Crescentia cujete, Crescentia
alata, dan Crescentia portoricensis.
Bernuk Crescentia alata, berbentuk
sama dengan Crescentia cujete, hanya
ukuran buahnya agak lebih kecil. Yang buahnya berbeda adalah bernuk Crescentia portoricensis. Bentuk buahnya
memanjang seperti labu air, dengan warna hijau tua.
Tanaman ini merupakan jenis tanaman perdu dengan tinggi
6 – 10 meter. Tajuk memanjang ke samping, cabang pohon panjang dan tertutup
oleh kumpulan dedaunan. Umum dijumpai di tepi hutan, di padang rumput dan di
tepi jalan sampai dengan ketinggian 420 meter di atas permukaan air laut. Kulit
pohon berwarna pucat, daunnya bisa mencapai 20x6 cm, berbunga di bulan Mei –
Januari. Buahnya bisa sebesar bola volley dan mencapai diameter 25 cm, berwarna
hijau dengan kulit (tempurung) sangat keras. Kayunya keras, berat namun
elastis.
MANFAAT TANAMAN MAJA
Meskipun dagingnya berasa pahit dan tidak bisa
dikonsumsi sebagai buah pencuci mulut ternyata
secara umum tanaman ini mempunyai manfaat bagi
kehidupan manusia, antara lain :
1.
Sebagai pupuk cair
Kandungan tanaman ini pernah diteliti di
Pusat Pendidikan dan Latihan Nasional Serikat Tani Indonesia di daerah Bogor. Dari
hasil penelitian tersebut, ternyata buah Maja dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
cair untuk meningkatkan produktifitas tanaman buah dengan cara sebagai berikut
: Buah maja yang tidak terlalu tua (jangan sampai terlalu tua karena kulitnya
akan keras sekali) diambil dagingnya, lalu dihancurkan. Daging buah yang sudah
hancur dimasukan ke dalam drum yang sudah terisi dengan campuran air dan urine
ternak yang ada di sekitar kita. Setelah dicampur, diaduk lalu ditutup dan
diamkan selama seminggu, setelah seminggu, buka kembali drum dan lakukan
pengadukan lagi, setelah itu tunggu selama seminggu lagi baru kemudian
larutan tersebut bisa diaplikasikan. Untuk pengaplikasian bisa dilihat dari
tingkat keenceran, jika larutan cukup pekat maka untuk pengaplikasian bisa
diencerkan dengan perbandingan 1: 3 atau 1:5, jika larutan encer bisa langsung
diaplikasikan ke tanaman, khususnya untuk tanaman yang menghasilkan buah.
Pengaplikasian akan lebih efektif pada saat tanaman berbunga.
2.
Sebagai insektisida alami
Kandungan tanaman ini sangat tidak
disukai oleh serangga yang bisa menjadi hama tanaman buah sehingga penyemprotan
pupuk cair bisa berfungsi juga sebagai pengusir serangga.
3.
Sebagai pengusir tikus
Informasi manfaat buah Maja sebagai
pengusir tikus didapat oleh penulis ketika bertemu dengan seorang warga
Trowulan yang kala itu tengah asyik memunguti buah yang jatuh di halaman Museum
Majapahit. Ternyata buah itu akan digunakannya sebagai pengusir tikus di rumah.
Masuk akal, karena lagi-lagi kandungan zat di dalam buah yang membuat
tikus-tikus itu “menghilang” karena mungkin indera penciumannya menangkap bau
yang kurang mereka sukai. Caranya mudah yaitu cukup menaruh saja buah tersebut
di daerah yang sering disinggahi oleh tikus.
4.
Sebagai bahan kerajinan
Tempurung buah Maja berukuran 2 kali
lipat dari tempurung kelapa dan bertekstur keras. Namun di tangan orang yang
kreatif, tempurung yang biasa menjadi limbah bisa diolah menjadi kerajinan yang
menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan. Seperti yang dilakukan oleh seorang
pengrajin dari Bogor yang mengolah tempurung buah Maja menjadi gayung, cangkir,
poci/teko, tas tangan, dan lampu duduk. Caranya mudah, petik buahnya lalu buang
dagingnya kemudian dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, tempurung
bisa langsung dibentuk sesuai selera. Untuk finishing
bisa mempercantiknya dengan cat atau vernis.
5.
Sebagai tanaman peneduh jalan dan
penghias taman
Tajuknya yang melebar dan daun yang
rapat membuat tanaman ini cocok ditanam di taman kota atau di sisi jalan
sebagai peneduh. Bisa juga ditanam sebagai penghias halaman rumah karena bentuk
tanamannya yang unik dan menarik karena buahnya yang berbentuk besar, bulat
berwarna hijau dan bisa tumbuh sampai puluhan buah pada satu pohon.
6.
Sebagai tanaman obat
Di daerah asalnya di Amerika Tengah,
tanaman ini biasa digunakan sebagai obat alami untuk beberapa penyakit misalnya
penyakit saluran kencing, sakit kepala, sakit gigi, sakit telinga, asma, luka
bakar, batuk, demam, menstruasi yang tidak teratur, gangguan prostat. Di Haiti,
St. Lucia dan Mexico, buah ini di jus untuk mencegah diare. Di Venezuela
digunakan untuk menyembuhkan tumor dan radang. Di Karibia digunakan sebagai
obat penahan rasa sakit, anti radang untuk menyembuhkan trauma. Di Kostarika
digunakan sebagai obat pencahar/cuci perut.
TANAMAN MAJA SEBAGAI MEDIA EDUKASI DI MUSEUM
MAJAPAHIT
Di halaman Museum Majapahit terdapat beberapa batang
tanaman Maja. Hal ini menjadi inspirasi penulis untuk menjadikannya sebagai media
pembelajaran bagi pengunjung Museum baik siswa-siswi sekolah maupun dari
kalangan umum agar mereka tidak jenuh dengan hanya berkeliling melihat
koleksi-koleksi Museum yang notabene adalah benda mati. Memandu anak-anak itu
tidak gampang dan membutuhkan trik karena anak-anak butuh visualisasi dalam
belajar. Mereka butuh bersentuhan langsung dengan obyek agar memberikan kesan
mendalam.
Di bawah pohon Maja, penulis bisa bereerita tentang
banyak hal. Ketika penulis bercerita tentang sejarah berdirinya Kerajaan
Majapahit, penulis menyuruh mereka membayangkan seolah-olah mereka adalah
adalah prajurit Majapahit yang tengah kelelahan dan kehausan. Tak pelak mereka
pun berebutan menyentuh batang, daun dan menciumi buah Maja, sambil merasakan
tekstur, mengamati bentuk dan warnanya. Menyenangkan sekali ketika mereka asyik
berceloteh menyampaikan apa yang sudah mereka rasakan. Tak lupa penulis juga bercerita
tentang berbagai manfaat tanaman Maja bagi kehidupan manusia. Hal itu bisa
menyadarkan mereka bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di bumi ini pasti
dengan maksud tertentu seperti juga tanaman Maja,walaupun tidak bisa dimakan
ternyata bisa digunakan untuk obat, insektisida dll.
Untuk mengajak mereka mencintai lingkungan, penulis
mengajak mereka mengelilingi pohon Maja dan memintanya untuk merapat ke pohon
sambil bergandeng tangan. Sesaat kemudian, penulis meminta mereka membentuk
lingkaran besar menjauh dari pohon sambil bertanya apakah ada perbedaan suasana
antara ketika mereka berada di bawah pohon dengan di luar tajuk pohon. Pastilah
mereka serempak menjawab bahwa berdiri di bawah pohon sangatlah sejuk dan
suasana menjadi gerah dan panas ketika mereka ke luar dari tajuk. Nah, dari
pengalaman itulah mereka bisa belajar tentang arti penting sebuah pohon sebagai
peneduh udara dan manfaat secara ekologis lainnya, sehingga mereka tidak akan dengan
seenaknya menebang pohon tanpa ada alasan yang kuat. Atau mengajak mereka
mengenal bentuk daun dengan cara memetik satu daun kemudian meletakkan kertas
di atasnya kemudian mengarsirnya dengan pensil. Dari arsiran itu akan tampak
guratan-guratan tulang daun. Bagi kelas yang agak besar misalnya SMP dan SMA
yang sudah mendapat mata pelajaran Biologi, maka dari pohon Maja bisa saja menjadi
obyek pembelajaran klasifikasi tanaman mulai dari kerajaan, divisi, kelas,
ordo, famili, genus, spesies dan sub spesies. Menarik bukan? Siapa bilang di
Museum kita hanya belajar Sejarah? Ternyata di sana juga bisa belajar
pengetahuan alam dan tentang hal lainnya.
Semoga bermanfaat.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar