A
very very late post. Ketiga pria kekar ini bukanlah bodyguard saya.
Mereka bertiga adalah warga desa yang tinggal di dekat Candi Jabung
Probolinggo yang bekerja sebagai perajang tembakau dan kebetulan mereka
beraktifitas tepat di samping rumah yang saya tinggali waktu itu.
Penasaran....akhirnya saya pun ikut mencoba merajang dan wow....ternyata
susyeh karena kedua tangan harus bekerja ekstra. Tangan kiri menekan
tembakau agar masuk ke pisau rajang dan tangan kanan yang merajangnya.
Berhubung pemula, tak satupun tembakau yang berhasil saya rajang karena
ternyata tangan kiri saya kurang menekan. Walhasil tertawaan dan
cercaan pun mendarat dengan sukses
:D.
Ya sudahlah...belum sukses merajang, saya lanjut bagian naruh tembakau
ke "harley" (entah apa nama bakunya). Setelah penuh dan berat, tentunya,
saya usung dengan hati-hati karena jalan agak gelap, ke lokasi
penjemuran. Di sana ternyata sudah ada beberapa ibu yang memang berperan
sebagai yang menata tembakau di atas anyaman bambu. Lagi-lagi saya pun
mencoba dan ternyata tidak semudah yang saya bayangkan karena hasil
tatanan saya dinilai kurang merata alias masih banyak yang bergerombol.
Kalau sudah begitu, tembakau akan lebih lama keringnya. Saya mencoba
berkali-kali, sampai saya ureh-ureh karena penasaran dengan hasilnya.
Kami bekerja ditemani cuaca malam yang cerah sambil bersenda gurau. Ah...rasanya saya ingin kembali ke masa ratusan tahun silam dan menjadi bagian dari sejarah dimana nenek moyang mereka dari Madura datang ke tanah Jawa untuk dijadikan buruh perkebunan tembakau oleh penjajah dulu.


Kami bekerja ditemani cuaca malam yang cerah sambil bersenda gurau. Ah...rasanya saya ingin kembali ke masa ratusan tahun silam dan menjadi bagian dari sejarah dimana nenek moyang mereka dari Madura datang ke tanah Jawa untuk dijadikan buruh perkebunan tembakau oleh penjajah dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar