Di sela-sela perbincangan, kami berpapasan dengan sekelompok turis mancanegara yang sepuh-sepuh. Mereka sepertinya rasan-rasan dan memandang Lama Jigdrel dengan takjub. Mungkin mereka kaget dan heran ada biksu berkulit putih. Dan yang membuat saya terkesima adalah ketika salah satu dari turis tersebut kemudian datang kepada Lama, mencopot sepatunya lalu bersimpuh dan menyentuh kaki beliau untuk memperoleh berkat. Lama Jigdrel penganut Tantra Tibet. Jadi beliau tidak disebut dengan Biksu tapi Lama yang artinya guru (jadi ingat Dalai Lama ya dan juga film Seven Years in Tibet). Ketika berpamitan, saya spontan mengatakan Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta sambil menaruh tangan di depan dada dengan harapan saya juga mendapat doa dari beliau.
Bagi saya meminta doa itu bisa kepada siapa saja asal beliau orang baik dan taat beribadah meskipun dari agama yang berbeda. Saya hanya ingin doa kebaikan secara universal. Bukankah semua agama mengajarkan kita tentang kebaikan? Belakangan saya baru mengetahui ternyata kalimat tersebut tidak ada dalam Tantra Tibet yang dianut Lama Jigdrel karena Sabbe Satta lazim diucap oleh aliran Theravada. Maapkeun saya yang kemeruh ini, Lama hehehehe. Beberapa minggu berselang, saya dan Lama masih berkomunikasi lewat WA. Beliau masih suka menanyakan apakah saya baik-baik saja setelah beliau mengirim doa malam itu tepat jam 8 malam ketika beliau berada di Bali. Berkomunikasi dengan beliau, saya selalu membayangkan damainya Tibet dengan gunung-gunungnya itu. "Happy Vesak Day, Lama", itu ucapan WA saya tadi pagi kepada beliau

Tidak ada komentar:
Posting Komentar