Penayangan bulan lalu

Senin, 02 Juli 2018

Belajar Merajang Tembakau yang Tidak Sukses :D

A very very late post. Ketiga pria kekar ini bukanlah bodyguard saya. Mereka bertiga adalah warga desa yang tinggal di dekat Candi Jabung Probolinggo yang bekerja sebagai perajang tembakau dan kebetulan mereka beraktifitas tepat di samping rumah yang saya tinggali waktu itu.

Foto Eva Nurma.Penasaran....akhirnya saya pun ikut mencoba merajang dan wow....ternyata susyeh karena kedua tangan harus bekerja ekstra. Tangan kiri menekan tembakau agar masuk ke pisau rajang dan tangan kanan yang merajangnya. Berhubung pemula, tak satupun tembakau yang berhasil saya rajang karena ternyata tangan kiri saya kurang menekan. Walhasil tertawaan dan cercaan pun mendarat dengan sukses :D. Ya sudahlah...belum sukses merajang, saya lanjut bagian naruh tembakau ke "harley" (entah apa nama bakunya). Setelah penuh dan berat, tentunya, saya usung dengan hati-hati karena jalan agak gelap, ke lokasi penjemuran. Di sana ternyata sudah ada beberapa ibu yang memang berperan sebagai yang menata tembakau di atas anyaman bambu. Lagi-lagi saya pun mencoba dan ternyata tidak semudah yang saya bayangkan karena hasil tatanan saya dinilai kurang merata alias masih banyak yang bergerombol. Kalau sudah begitu, tembakau akan lebih lama keringnya. Saya mencoba berkali-kali, sampai saya ureh-ureh karena penasaran dengan hasilnya. 

Kami bekerja ditemani cuaca malam yang cerah sambil bersenda gurau. Ah...rasanya saya ingin kembali ke masa ratusan tahun silam dan menjadi bagian dari sejarah dimana nenek moyang mereka dari Madura datang ke tanah Jawa untuk dijadikan buruh perkebunan tembakau oleh penjajah dulu.


Minggu, 01 Juli 2018

Menjelang Detik-detik Waisak

Bekerja di Unit Pengelolaan Informasi Majapahit atau yang biasa disebut sebagai Museum Majapahit Trowulan memungkinkan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Siang itu saya berkesempatan mendampingi salah satu tamu Mahavihara Majapahit Trowulan yang bernama Lama Jigdrel Samten yang berkebangsaan Spanyol. Beliau diantar oleh pak Narto salah satu pengurus Yayasan Lumbini. Lama Jigdrel sangat menikmati jalan-jalan nya di Trowulan terutama di PIM karena banyak koleksi yang membuat tergelitik untuk bertanya. Beliau tertarik dengan Arca Camundi dan penasaran dengan Raja Kertanegara sang penganut Tantra yang waktu itu berseteru dengan Kubilai Khan. 

Di sela-sela perbincangan, kami berpapasan dengan sekelompok turis mancanegara yang sepuh-sepuh. Mereka sepertinya rasan-rasan dan memandang Lama Jigdrel dengan takjub. Mungkin mereka kaget dan heran ada biksu berkulit putih. Dan yang membuat saya terkesima adalah ketika salah satu dari turis tersebut kemudian datang kepada Lama, mencopot sepatunya lalu bersimpuh dan menyentuh kaki beliau untuk memperoleh berkat. Lama Jigdrel penganut Tantra Tibet. Jadi beliau tidak disebut dengan Biksu tapi Lama yang artinya guru (jadi ingat Dalai Lama ya dan juga film Seven Years in Tibet). Ketika berpamitan, saya spontan mengatakan Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta sambil menaruh tangan di depan dada dengan harapan saya juga mendapat doa dari beliau. 


Bagi saya meminta doa itu bisa kepada siapa saja asal beliau orang baik dan taat beribadah meskipun dari agama yang berbeda. Saya hanya ingin doa kebaikan secara universal. Bukankah semua agama mengajarkan kita tentang kebaikan? Belakangan saya baru mengetahui ternyata kalimat tersebut tidak ada dalam Tantra Tibet yang dianut Lama Jigdrel karena Sabbe Satta lazim diucap oleh aliran Theravada. Maapkeun saya yang kemeruh ini, Lama hehehehe. Beberapa minggu berselang, saya dan Lama masih berkomunikasi lewat WA. Beliau masih suka menanyakan apakah saya baik-baik saja setelah beliau mengirim doa malam itu tepat jam 8 malam ketika beliau berada di Bali. Berkomunikasi dengan beliau, saya selalu membayangkan damainya Tibet dengan gunung-gunungnya itu. "Happy Vesak Day, Lama", itu ucapan WA saya tadi pagi kepada beliau

Kamis, 18 Februari 2016

MENGUNJUNGI PERPUSTAKAAN KOTA MOJOKERTO


PENAMPAKAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA MOJOKERTO


Hari Senin adalah hari mbolang Simbok, Nduk, Thole, Pak e Thole.

Iya, karena aku liburnya pasti di hari Senin sebagai pengganti libur Sabtu/Minggu. Dan agenda mbolang di Senin kemaren adalah berkunjung ke Perpustakaan Kota Mojokerto yang terletak di Jalan Surodinawan. Ini hal yang lucu karena sebenarnya aku sering banget lewat jalan itu tapi entah kenapa baru saja aku menemukan salah satu tempat yang aku agendakan menjadi “destinasi unggulan” yang wajib dikunjungi oleh ku dan anak-anak. Ya tujuan ku adalah aku ingin anak-anak senang membaca dan menjadikan buku sebagai teman di waktu mereka dalam antrian, sedang menunggu kendaraan umum atau dalam situasi lain dimana buku menjadi alternatif, daripada mereka bengong atau melamun. Oh ya, ternyata bangunan perpustakaan itu sudah ada di Jalan Surodinawan sejak setaun yang lalu. Gedung Perpustakaan Kota diapit Kantor Polisi Prajurit Kulon dan Kantor Kecamatan Prajurit Kulon. Oleh orang Mojokerto, Prajurit Kulon sering disingkat jadi Pralon. 

Sebenarnya ini bukan kali pertama anak-anakku berkunjung ke Perpustakaan Umum karena aku pernah beberapa kali mengajak mereka mengunjungi Perpustakaan Kota Malang, yang menurutku salah satu perpustakaan terbaik di Indonesia. Tak heran kalo kerap dijadikan jujugan untuk studi banding oleh perpustakaan dari daerah lain.

Dasar anak-anak, tentunya tau lah gimana ekspresi mereka pas ketemu buku yang menurut mereka menarik. Terutama si Thole yang heboh karena nemu komik tentang Khrisna dan buku bergambar binatang. Kalo si Nduk sih anaknya anteng. Nemu buku ya langsung dibaca walaupun bacanya sambil bersuara tapi ngga seheboh adiknya gitu. Mereka baca buku di ruang khusus anak TK dan SD, duduk lesehan di karpet. Sedangkan untuk yang sudah dewasa duduknya di bangku-bangku yang sudah disediakan. Oh ya....para pengunjung yang mau membaca di luar/teras juga boleh karena disediakan beberapa bangku, tapi ada syaratnya.....bawa buku keluar harus lapor dulu ke petugas yang jaga.

Sayangnya kami ngga bisa pinjam buku karena kami warga Kabupaten Mojokerto. Wew.....akhirnya puas dengan membaca di tempat saja. Tapi itupun ngga lama karena jemputan kami sudah datang. Agenda mendatang kayaknya kami harus berkunjung ke Perpustakaan Kabupaten biar ngga ribet kalo mau pinjam buku. Tapi ya gitu deh....jaraknya jauh dari rumah kami di Trowulan sedangkan perpustakaan nya ada di daerah Jabon. Lebih deket kalo kami ke Perpustakaan Kota sebenarnya.


RUANG BACA KHUSUS ANAK TK DAN SD







Tentang jam buka Perpustakaan Kota bisa lihat foto di bawah ini. Hmm...yang bikin excited ternyata perpus buka sampe malam. Wah bisa sewaktu-waktu kalo pergi ke sana dan ngga harus pagi atau siang hari. Sabtu dan Minggu juga buka lhoo...meskipun cuma sampe siang hari dan itupun cuma boleh baca di tempat atau hanya mengembalikan saja.



Buat yang bawa anak kecil ngga usah takut karena di halaman ada beberapa alat bermain outdoor seperti di bawah ini. Di samping kiri gedung ada musholla sama kamar mandi.



Buat yang hobi browsing internet, bisa coba akses Wifi di sini, cukup Rp. 5.000,00. Sudah disediakan beberapa gazebo dengan meja permanen di tengahnya. Di bawah meja ada 4 colokan listrik, jadi muat cuma 4 orang untuk satu gazebo nya (ya iyalah...:D)



So....buat orang Mojokerto yang hobi membaca dan ingin mengajarkan anak untuk gemar membaca, monggo berkunjung ke sini.

Selasa, 16 Februari 2016

RICHARD COCCIANTE - Just For You

Pertama kali denger lagu ini pas SMP jaman di Malang dulu awal tahun 90 an. Tiap malam sambil belajar pasti denger radio. Itu gaya belajar anak jaman dulu. Entah anak jaman sekarang gimana gaya belajarnya. Mungkin mereka belajar sambil main gadget. Sibuk update status sambil belajar atau bikin PR hehehehe. Beda jaman, pasti beda gaya belajar.

Nah...di satu radio FM, aku lupa namanya, pokoknya studionya ada di sekitar SMPN 3 Malang. Di radio itu tiap jam 8 atau jam 9 malam pasti muter lagu-lagu mancanegara yang lagi hits waktu itu. Dan salah satu yang diputer adalah lagu ini. Pas banget didengarkan di saat hening malam, apalagi sambil membayangkan seseorang hahahahaha. Dan jaman dulu ngga ada internet. Akibatnya aku yang baru belajar bahasa Inggris jadinya bingung, ini teks lagunya kayak apa dan maksudnya apa. Sang penyiar, yang lagi-lagi aku lupa namanya, cukup pandai membaca peluang ini. Akhirnya dia buat teks lagu dan di bawahnya ada terjemahan bahasa Indonesia nya. Teks diketik pake mesin ketik manual di lembar kertas warna-warni dan dijual ke anak-anak sekolah. Duh....senengnya waktu itu kalo pas ada lagu favorit kita diputer dan kita punya teks nya. Jadi deh kita hafal. Gara-gara itu aku jadi semakin suka sama bahasa Inggris. Karena belajar dengan memakai media yang kita suka yaitu lewat lagu. Kalo sekarang sih, kalo pengen tau teks lagu nya siapa gitu tinggal tanya ke mbah Google sudah beres. Hmmm.....itulah perubahan jaman.

Oh ya, tentang lagu ini sendiri....aku speachless banget. Keren abis, syahdu, bikin yang denger ayem tentrem. Dan anehnya yang suka lagu ini kok ya rata-rata orang-orang yang hobinya naik gunung ya. Ini kutahu ketika aku agak dewasa dikit (baca : pas kuliah). Bahkan ada tuh salah satu petualang senior sekaligus pendiri salah satu organisasi pecinta alam tertua di Malang yang kasih kado ulang taun buat istrinya berupa sebuah kaset yang sengaja direkam sendiri dan isi side A dan side B nya cuma lagu ini aja.diulang ulang terus. Coba deh bayangin hahahaha........

Ada juga cerita dari temanku, kalo temennya (halahhh...) kalo naik gunung bawa gitar dan lagunya pasti lagu ini. Padahal temennya tuh gondrong dan sangar eh....lah kok nyanyi nya lagu syahdu begitu. Ah itu namanya wajah Rambo hati Rinto hahahahaha......

Hmmmm.....OMG nya adalah....suami ku, yang waktu itu baru ku kenal sosoknya di Ranu Kumbolo, ternyata suka banget sama lagu ini. Almarhum bapak mertua ku yang purnawirawan TNI AD dan mbak-mbak iparku yang hobi naik gunung pun juga suka. Ah aneh banget lagu om Richard nih. Ya memang kalo didenger dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya memang seperti musik meditative, bisa bikin jiwa melayang ke tempat nun jauh di sana, tempat yang sunyi namun damai. Seperti halnya ketika aku dengar musiknya Kitaro atau musik new age lainnya.

Dan masih banyak lagi cerita yang lainnya.....akan aku bahas di cerita selanjutnya. Itupun kalo aku mood.
Oke, selamat mendengarkan dan membayangkan orang-orang terkasih. Kalo aku pasti akan membayangkan camping di Ranu Kumbolo, the most beautiful and romantic place in the world. Dimana di sana pernah terbentang kisah persahabatan dan juga kisah cinta nan lara hehehehe


Minggu, 14 Februari 2016

Yang Terakhir



Sayang foto yang tersisa cuman satu. Yang lainnya dipaksa hilang kena virus.

Nyesek juga liat foto ini karena beberapa saat setelah kegiatan ini aku harus resign dari Yayasan Kaliandra S.E.J.A.T.I yang sebenarnya masih aku cintai huhuhuhuhu.....

Iya, sebelum kerja di Museum Majapahit aku dulu pernah jadi Fasilitator Program dan jabatan saya yang terakhir (uhuk...) jadi Koordinator Program Budaya dan punya anak buah 3 orang yang sebenarnya senior banget di bidangnya. I love them so much. Miss you Mas Budi, miss you TJ, miss you Diyono Yusuf dan yang lain-lain juga heehehheh......

Oh iya, aku kenalin siapa-siapa saja yang ada di foto ini. Paling kiri itu ada mas Ponco, bagian keuangan, trus aku, sebelahku ada mas Anam masternya outbound, sebelahnya lagi ada mas Siswoyo atau akrab dipanggil mas Sis yang menurutku dia itu ensiklopedi berjalan dan yang paling kanan ada Sugi yang pegang ekowisata sekaligus penggagas kegiatan ini. Oh iya, yang moto namanya Rubby. Dia jarang mau difoto karena sesuatu dan lain hal hahahaha......

Nah si Sugi yang ngga mau dipanggil Sugik itu punya ide buat jalur sepeda cross country untuk jalur pendek, menengah dan panjang dengan jalur Wisata Kebun Teh Lawang sampai ke Kaliandra, yang lewatnya nanti belakang Taman Safari Prigen.

Buat aku, pengalaman bersepeda seperti ini adalah yang pertama kalinya jadi kebayang lah gimana rasanya. Ada rasa seneng karena ada hal baru yang bisa dilakukan, ada rasa capek luar biasa karena badan njarem semua. Dan akhirnya pulang ke kost mandi air anget di tengah suhu Prigen yang dingin kayak gitu. Maklum aja karena letaknya di lereng Gunung Arjuno di sekitar ketinggian 750 mdpl.

Siang itu kita diangkut naik APV, mobil kantor yang disopiri sama Rusdi. Kayaknya sepeda nya dulu diikat di atas mobil kayaknya. Kami didrop di kebun teh diiringi cuaca agak mendung, yah lumayan ngga panas-panas amat waktu itu. Kebetulan aku cewek sendiri di tim jadi wajar kalo aku suka ketinggalan di banding yang lain. Untunglah jalur masih jelas jadi bisa diikuti dengan aman. Kalo seumpama ada persimpangan biasanya ada yang nungguin untuk kasih tau. Hmmmm.....ndlosor sudah biasa, jungkir balik juga iya sampe kampas rem habis dan itu (sekali lagi untung) pas posisi udah mau nyampe Kaliandra jadi jalur ngga terlalu menurun tajam. Kita start sekitar jam 11 siang dan nyampe Kaliandra pas maghrib. Mungkin kalo buat orang yang hobi sepeda kayaknya ga harus selama itu untuk program ini.

Oh ya....yang namanya penggabungan sport sama kegiatan ekowisata, jadi kita sempatkan untuk survey ke Desa Tambakwatu Kecamatan Purwasari yang kita lalui untuk melihat sentra pembuatan kopi karena di situ ada kelompok masyarakat yang mengembangkan usaha kopi rakyat. Lumayan kan kalo usaha seperti ini bisa dikenal sama masyarakat luas. Di Desa Tambakwatu juga ada KUD yang menampung susu sapi hasil perahan masyarakat. Trus apalagi ya dulu.....aku lupa.

Nah itu sekelumit pengalamanku pas ikut trial jalur cross country yang pertama, yang berikutnya masih nunggu ajakan dari berbagai pihak hehehehe.






Jumat, 12 Februari 2016

Menjadi Pemandu Museum itu .......

Menjadi pemandu museum itu menyenangkan karena bagi saya museum adalah tempat dimana saya bisa mengenal berbagai macam kebudayaan di dunia. Bagaimana tidak, Museum Majapahit tiap hari dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai negara dan di situlah saya bisa bertukar informasi dengan mereka. Dan percakapan akan semakin mengalir ketika saya sedikit mengetahui tentang kebudayaan di negara nya. Atau si wisatawan itu sendiri tahu sedikit tentang budaya Indonesia. Tentu saja ini akan memudahkan komunikasi karena akan nyambung satu sama lain.

Contohnya kemarin ketika saya memandu Javier dari Chicago, AS. Seorang Hispanic keturunan Mexico. Well....semua mengalir walaupun dengan bahasa inggris saya yang grathul-grathul ketika saya bilang saya mengenal lagu-lagu grup band Chicago dan Peter Cetera nya, saya ngefans dengan ksatria Indian Amerika seperti Geronimo, Sitting Bull dan yang lainnya, juga suku Inca, Maya serta Aztec. Dan juga diskusi tentang Apocalypto nya Mel Gibson yang menurutnya terlalu lebay dalam menggambarkan kekejaman penguasa Suku Maya. Dia bahkan ketawa terbahak2 ketika saya tunjukkan beberapa koleksi foto dan proverb ksatria Indian Amerika di hp saya yang sudah berkedip kedip kuning alias mau mati karena kehabisan batre. Sampai dia heran dan bilang kenapa saya sampai segitu nya pake nyimpen2 foto nya orang Indian segala. Ya saya ngefans nya udah dari jaman SD dulu, Om....batinku hahahahaha. Kan dulu banyak film-film Cowboy jaman Wild West dan pasti ada karakter Indian di dalamnya.

Nah...giliran tadi saya memandu keluarga dari Osaka Jepang, saya bingung karena saya kurang tahu (baca : kurang tertarik) dengan kebudayaan jepang. Masak ya saya harus cerita kalau magic com saya merk nya Miyako ketika saya tahu nama istrinya Mr. Yong itu Mrs. Miyako? Hadeeeehh....akhirnya saya cuma menyinggung tentang bendera Hinomaru dan bilang Arigato ketika mereka pulang seperti hal nya saya bilang Danke, Aufwiedersehen kepada turis Jerman. Karena cuma itu yang bisa saya katakan, selain bilang Ich liebe dich tentunya hahhahaha....


Dengan keluarga Mr. Yong dari Osaka Jepang

So, PR buat saya untuk lebih suka membaca pengetahuan tentang aneka kebudayaan di dunia biar nanti memandu wisatawan asing bisa lebih gayeng lagi sehingga terjadi tukar menukar pengetahuan. Kalo bisa...belajar bahasa asing selain bahasa Inggris tentunya. Itu sekelumit cerita saya tentang bagaimana suka duka nya menjadi pemandu museum, meskipun itu profesi yang ngga ada hubungannya sama sekali dengan ilmu di bangku kuliah dulu. Bagi saya...passion tetap nomor satu.

Selasa, 09 Februari 2016

MENGENAL LEBIH DEKAT TANAMAN MAJA (Crescentia cujete)


Sebagai seseorang yang mencintai bidang budaya dan alam, aku nyoba nulis ini. Dulu tulisan ini aku setor untuk mengisi salah satu rubrik di majalah DESAWARNANA yang diterbitkan oleh BPCB Jawa Timur. 

----------------------------------------------------------------------------------------

Siapa yang tidak pernah mendengar nama “Kerajaan Majapahit”?. Ya...tentunya bukan sebuah nama yang asing lagi di telinga masyarakat umum karena selalu menjadi salah satu topik pembahasan pada mata pelajaran Sejarah dari mulai bangku SD sampai SMA. Sebuah nama yang sangat melegenda karena kerajaan ini pernah berjaya di Nusantara pada abad 13. Cerita tentang pendirian kerajaan ini, tak luput dari kisah prajurit Raden Wijaya yang tengah menebang pepohonan di hutan Trik untuk dijadikan sebuah desa. Tanpa sengaja, prajurit itu memakan buah Maja yang rasanya pahit dan akhirnya beliau pun menamakan kerajaannya itu menjadi Kerajaan Majapahit. 

Artikel ini mengesampingkan perdebatan buah Maja yang mana kah yang dimakan oleh prajurit tersebut. Buah Maja manis yang masih sangat muda (yang mungkin terasa pahit) ataukah buah Maja yang kita kenal selama ini?. Berdasarkan ilmu botani diperoleh informasi bahwa buah Maja manis yang bernama ilmiah Aegle marmelos merupakan tanaman asli Asia yang tersebar mulai dari Pakistan, India, tenggara Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Kambodja, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Sedangkan buah Maja pahit yang bernama ilmiah Crescentia spp. berasal dari daerah Karibia, Mexico dan Amerika Tengah. Di artikel ini akan dibahas mengenai Maja jenis terakhir ini, yang memang lebih dikenal luas dan sering dijumpai di beberapa tempat. Bagaimana bentuk dan karakteristiknya, apa saja manfaatnya, dan bagaimana aplikasinya untuk menjadi media edukasi di Museum Majapahit? Silahkan simak informasi di bawah ini.


KARAKTERISTIK TANAMAN MAJA (Crescentia cujete)

Buah Maja ini dikenal dengan nama lokal Berenuk, Bernuk atau Brenuk, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Calabash Tree. Ada beberapa jenis Crescentia yaitu Crescentia cujete, Crescentia alata, dan Crescentia portoricensis. Bernuk Crescentia alata, berbentuk sama dengan Crescentia cujete, hanya ukuran buahnya agak lebih kecil. Yang buahnya berbeda adalah bernuk Crescentia portoricensis. Bentuk buahnya memanjang seperti labu air, dengan warna hijau tua.

Tanaman ini merupakan jenis tanaman perdu dengan tinggi 6 – 10 meter. Tajuk memanjang ke samping, cabang pohon panjang dan tertutup oleh kumpulan dedaunan. Umum dijumpai di tepi hutan, di padang rumput dan di tepi jalan sampai dengan ketinggian 420 meter di atas permukaan air laut. Kulit pohon berwarna pucat, daunnya bisa mencapai 20x6 cm, berbunga di bulan Mei – Januari. Buahnya bisa sebesar bola volley dan mencapai diameter 25 cm, berwarna hijau dengan kulit (tempurung) sangat keras. Kayunya keras, berat namun elastis.



MANFAAT TANAMAN MAJA

Meskipun dagingnya berasa pahit dan tidak bisa dikonsumsi sebagai buah pencuci mulut ternyata
secara umum tanaman ini mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia, antara lain :

1.        Sebagai pupuk cair
Kandungan tanaman ini pernah diteliti di Pusat Pendidikan dan Latihan Nasional Serikat Tani Indonesia di daerah Bogor. Dari hasil penelitian tersebut, ternyata buah Maja dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk meningkatkan produktifitas tanaman buah dengan cara sebagai berikut : Buah maja yang tidak terlalu tua (jangan sampai terlalu tua karena kulitnya akan keras sekali) diambil dagingnya, lalu dihancurkan. Daging buah yang sudah hancur dimasukan ke dalam drum yang sudah terisi dengan campuran air dan urine ternak yang ada di sekitar kita. Setelah dicampur, diaduk lalu ditutup dan diamkan selama seminggu, setelah seminggu, buka kembali drum dan lakukan pengadukan lagi, setelah itu tunggu selama seminggu  lagi baru kemudian larutan tersebut bisa diaplikasikan. Untuk pengaplikasian bisa dilihat dari tingkat keenceran, jika larutan cukup pekat maka untuk pengaplikasian bisa diencerkan dengan perbandingan 1: 3 atau 1:5, jika larutan encer bisa langsung diaplikasikan ke tanaman, khususnya untuk tanaman yang menghasilkan buah. Pengaplikasian akan lebih efektif pada saat tanaman berbunga.

2.        Sebagai insektisida alami
Kandungan tanaman ini sangat tidak disukai oleh serangga yang bisa menjadi hama tanaman buah sehingga penyemprotan pupuk cair bisa berfungsi juga sebagai pengusir serangga.

3.        Sebagai pengusir tikus
Informasi manfaat buah Maja sebagai pengusir tikus didapat oleh penulis ketika bertemu dengan seorang warga Trowulan yang kala itu tengah asyik memunguti buah yang jatuh di halaman Museum Majapahit. Ternyata buah itu akan digunakannya sebagai pengusir tikus di rumah. Masuk akal, karena lagi-lagi kandungan zat di dalam buah yang membuat tikus-tikus itu “menghilang” karena mungkin indera penciumannya menangkap bau yang kurang mereka sukai. Caranya mudah yaitu cukup menaruh saja buah tersebut di daerah yang sering disinggahi oleh tikus.

4.        Sebagai bahan kerajinan
Tempurung buah Maja berukuran 2 kali lipat dari tempurung kelapa dan bertekstur keras. Namun di tangan orang yang kreatif, tempurung yang biasa menjadi limbah bisa diolah menjadi kerajinan yang menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan. Seperti yang dilakukan oleh seorang pengrajin dari Bogor yang mengolah tempurung buah Maja menjadi gayung, cangkir, poci/teko, tas tangan, dan lampu duduk. Caranya mudah, petik buahnya lalu buang dagingnya kemudian dijemur di bawah terik matahari. Setelah kering, tempurung bisa langsung dibentuk sesuai selera. Untuk finishing bisa mempercantiknya dengan cat atau vernis.

5.        Sebagai tanaman peneduh jalan dan penghias taman
Tajuknya yang melebar dan daun yang rapat membuat tanaman ini cocok ditanam di taman kota atau di sisi jalan sebagai peneduh. Bisa juga ditanam sebagai penghias halaman rumah karena bentuk tanamannya yang unik dan menarik karena buahnya yang berbentuk besar, bulat berwarna hijau dan bisa tumbuh sampai puluhan buah pada satu pohon.

6.        Sebagai tanaman obat
Di daerah asalnya di Amerika Tengah, tanaman ini biasa digunakan sebagai obat alami untuk beberapa penyakit misalnya penyakit saluran kencing, sakit kepala, sakit gigi, sakit telinga, asma, luka bakar, batuk, demam, menstruasi yang tidak teratur, gangguan prostat. Di Haiti, St. Lucia dan Mexico, buah ini di jus untuk mencegah diare. Di Venezuela digunakan untuk menyembuhkan tumor dan radang. Di Karibia digunakan sebagai obat penahan rasa sakit, anti radang untuk menyembuhkan trauma. Di Kostarika digunakan sebagai obat pencahar/cuci perut.


TANAMAN MAJA SEBAGAI MEDIA EDUKASI DI MUSEUM MAJAPAHIT

Di halaman Museum Majapahit terdapat beberapa batang tanaman Maja. Hal ini menjadi inspirasi penulis untuk menjadikannya sebagai media pembelajaran bagi pengunjung Museum baik siswa-siswi sekolah maupun dari kalangan umum agar mereka tidak jenuh dengan hanya berkeliling melihat koleksi-koleksi Museum yang notabene adalah benda mati. Memandu anak-anak itu tidak gampang dan membutuhkan trik karena anak-anak butuh visualisasi dalam belajar. Mereka butuh bersentuhan langsung dengan obyek agar memberikan kesan mendalam.

Di bawah pohon Maja, penulis bisa bereerita tentang banyak hal. Ketika penulis bercerita tentang sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, penulis menyuruh mereka membayangkan seolah-olah mereka adalah adalah prajurit Majapahit yang tengah kelelahan dan kehausan. Tak pelak mereka pun berebutan menyentuh batang, daun dan menciumi buah Maja, sambil merasakan tekstur, mengamati bentuk dan warnanya. Menyenangkan sekali ketika mereka asyik berceloteh menyampaikan apa yang sudah mereka rasakan. Tak lupa penulis juga bercerita tentang berbagai manfaat tanaman Maja bagi kehidupan manusia. Hal itu bisa menyadarkan mereka bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di bumi ini pasti dengan maksud tertentu seperti juga tanaman Maja,walaupun tidak bisa dimakan ternyata bisa digunakan untuk obat, insektisida dll.

Untuk mengajak mereka mencintai lingkungan, penulis mengajak mereka mengelilingi pohon Maja dan memintanya untuk merapat ke pohon sambil bergandeng tangan. Sesaat kemudian, penulis meminta mereka membentuk lingkaran besar menjauh dari pohon sambil bertanya apakah ada perbedaan suasana antara ketika mereka berada di bawah pohon dengan di luar tajuk pohon. Pastilah mereka serempak menjawab bahwa berdiri di bawah pohon sangatlah sejuk dan suasana menjadi gerah dan panas ketika mereka ke luar dari tajuk. Nah, dari pengalaman itulah mereka bisa belajar tentang arti penting sebuah pohon sebagai peneduh udara dan manfaat secara ekologis lainnya, sehingga mereka tidak akan dengan seenaknya menebang pohon tanpa ada alasan yang kuat. Atau mengajak mereka mengenal bentuk daun dengan cara memetik satu daun kemudian meletakkan kertas di atasnya kemudian mengarsirnya dengan pensil. Dari arsiran itu akan tampak guratan-guratan tulang daun. Bagi kelas yang agak besar misalnya SMP dan SMA yang sudah mendapat mata pelajaran Biologi, maka dari pohon Maja bisa saja menjadi obyek pembelajaran klasifikasi tanaman mulai dari kerajaan, divisi, kelas, ordo, famili, genus, spesies dan sub spesies. Menarik bukan? Siapa bilang di Museum kita hanya belajar Sejarah? Ternyata di sana juga bisa belajar pengetahuan alam dan tentang hal lainnya.

Semoga bermanfaat.


Sumber :